Senin, 19 Desember 2011

rote Ndao


OLEH :
YORI ARIANTO SINLAE
BUDAYA ROTE NDAO

Kabupaten Rote Ndao adalah salah satu pulau paling selatan dalam jajaran kepulauan Nusantara Indonesia. Pulau-pulau kecil yang mengelilingi pulau Rote antara lain Pulau Ndao,Ndana, Naso, Usu, Manuk, Doo, Helina, Landu.
            Konon menurut lagenda seorang Portugis diabad ke 15 mendaratkan perahunya , dan bertanya kepada seorang nelayan setempat apa nama pulau ini, sang nelayan menyebut namanya sendiri, Rote. Sang pelaut Portugis mengira nama pulau itu yang dimaksudkan.
            Sebagian besar penduduk yang mendiami pulau/kabupaten Rote Ndao menurut tradisi tertua adalah suku-suku kecil Rote Nes, Bara Nes, Keo Nes, Pilo Nes, dan Fole Nes. Suku-suku tersebut mendiami wilayah kesatuan adat yang disebut Nusak.
Semua Nusak yang ada dipulau Rote Ndao tersebut kemudian disatukan dalam wilayah kecamatan.
            Masyarakat Rote Ndao mengenal suatu lagenda yang menuturkan bahwa awal mula orang Rote datang dari Utara, dari atas, lain do ata, yang konon kini Ceylon. Kedatangan mereka menggunakan perahu lete-lete.
            Strata sosial terdapat pada setiap leo. Lapisan paling atas yaitu mane leo (leo mane). Yang menjadi pemimpin suatu klein didampingi leo fetor (wakil raja) yang merupakan jabatan kehormatan untuk keluarga istri mane leo. Fungsi mane leo untuk urusan yang sifatnya spiritual, sedangkan fetor untuk urusan duniawi.
            Filosofi kehidupan orang Rote yakni mao tua do lefe bafi yang artinya kehidupan dapat bersumber cukup dari mengiris tuak dan memelihara babi.
Dan memang secara tradisonal orang-orang Rote memulai perkampungan melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak. Dengan demikian pada mulanya ketika ada sekelompok tanaman lontar yang berada pada suatu kawasan tertentu, maka tempat itu jugalah menjadi pusat pemukiman pertama orang-orang Rote.
  1. BUDAYA ROTE: “Tu’u” Belis di Nusa Lontar
            Selama berates tahun, kematian dan pernikahan di Pulau Rote Ndoa, Nusa Tenggara Timur, adalah pesta pora. Bukan pesta biasa, tetapi ritual minum dan makan daging berhari-hari. Puluhan hingga ratusan domba, babi, sapi, atau kuda dikorbankan.
Bagi keluarga bangsawan, itulah waktu “mengerahkan” sumber daya untuk pesta bernilai ratusan juta rupiah.
Kemeriahan pesta adalah mutlak, tak peduli yang punya pesta itu kaya atau miskin. Kemeriahan tidak mengenal status ekonomi. Semakin tinggi status sosial keluarga, pesta makin meriah. Seperti dialami keluarha Tolasik, salah seorang bangsawan di Kota Ba’a (sekarang nama ibu kota kabupaten).
Ratusan ternak dikorbankan bagi pesta kematian. Tiada hari tanpa makan daging dan minum. “Dari keluarga menyiapkan 60 ekor kerbau dan babi, berlum termasuk ternak sumbangan,” kata Meslik Tolasik, salah satu cucu mendiang, ketika dikunjungi Kompas dan tim dari World Vision Indonesia (WVI) akhr September 2008.
Secara adat, “genderang” pesta kematian ditabuh saat buka neneik (tikar), sesaat setelah ada anggota keluarga meninggal. Berhari-hari kerabat, kenalan, dan tokoh sebaya anggota keluarga yang meninggal duduk-duduk, ngobrol, dan berpantun mengenang mendiang.
Sementara itu, rangkaian pesta pernikahan dimulai saat kedua keluarga calon mempelai mamastikan tanggal penikahan. Saat itulah besarnya belis (mas kawin) diketahui. Umumnya, belis mencapai Rp 20 jutaan, yang ditanggung keluarga besar melalui serangkaian pertemuan tu’u belis (kumpul ongkos kawin). Tahapan itu untuk memastikan kesanggupan kerabat soal besaran sumbangan.
Sumbangan, baik uang maupun ternak, dicatat; nama penyumbngan, jumlah uang, hingga kondisi ternak (lingkar perut atau gemuk-tidaknya ternak). Pada setiap tahapan tu’u, pesta daging tak pernah absen. Setidaknya ada tiga tahapan tu’u belis, yakni tu’u daftar (mendaftar keluarga yang akan diundang), tu’u kumpul keluarga (memebicarakan sumbangan yang akan diberikan), dan tu’u penyetoran (menyerahkan sumbangan). Barulah puncak acara tiba; pesta nikah.
Nama penyumbang dan sumbangan disimpan rapi untuk pengembalian. Mengembalikan sumbanga wajib hukumnya. Kalau tidak? “Yang bersangkutan akan dipermalukan dengan pengumuman saat pesta,” kata Maneleo (kepala suku) Nusak Ba’a Jhon Ndolu (45). Selain sumbangan bernilai jutaan rupiah menjerumuskan warga pada jeratan utang, yang bahkan diwariskan. Dengan kata lain, mempelai langsung menanggung utang secara adat.
Di Rote, tak sedikit kasus putus sekolah karena tak ada biaya. Namun, jangan sampai tak ada uang untuk menyumbang pesta. Untuk pesta kematian atau pernikahan, tak ada istilah miskin. Warga lebih malu tidak pesta dari pada anak-anak putus sekolah. “Bisa dibilang, orang pergi bekerja bukan untuk uang sekolah, tetapi membayar ketentuan adat,” kata Kepala Desa Oelunggu Adrianus Tulle.
Pesta daging pada setiap kumpul keluaga pun ditiadakan. Jika ada, cukup kue dan teh. Penerimaan warga diluar dugaan, termasuk memutihkan hati memutihkan piutang ternak yang dulu mereka sumbangkan. Sangsi pun diatur, berupa denda Rp 500.000 hingga rp 1 juta.
Contoh pelanggaran, menyembelih ternak berlebihan, atau menyedikan daging mentah untuk dibawa pulang. “Beberapa orang pernah mencoba melanggar, termasuk menyuap saya dengan bawaan daging.


B. BUDAYA ROTE NDA’O DENGAN BERBAGAI TARIAN

         Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rote Ndao sementara berbenah menerima ratusan wisatawan yang berencana berkunjung secara resmi dan dalam kunjungan mereka,langsung melakukan pemotretan dan pengambilan gambar khususnya yang bersentuhan dengan budaya Rote. Kepala Bidang Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rote Ndao, Mesakh Lusi di ruang kerjanya, Rabu (2/12) mengatakan, ratusan wisatawan mancanegara yang akan berkunjung diantaranya berasal dari Singapura. "Ada dua kloter yang pertama tanggal 16 Januari 2010 dari Singapura berjumlah 100 wisatawan," ujar Lusi. Dia menyebutkan, hingga kini pihaknya tengah berkoordinasi dengan event organizer yang memfasilitasi para wisatawan.  Sehingga, untuk kloter kedua belum diketahui secara pasti tentang negara asal mereka. Jadwal kapal yang kedua akan datang 18 Januari, tetapi belum tahu resmi dari negara mana, jelas Lusi. Namun yang jelas, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik.

        Dalam rencana tour tersebut, wisatawan hanya meminta pemerintah setempat untuk menyiapkan potensi budaya yang ada untuk dipotret dan diambil gambar untuk kemudian dipromosikan ke luar. Selebihnya, wisatawan hanya menggunakan fasilitas kapal yang direncanakan akan berlabuh di pelabuhan Ba'a untuk penginapan. Lusi mengatakan, pihaknya sementara mempersiapkan gedung untuk kegiatan tersebut. Sementara potensi yang dipersiapkan berupa empat tarian daerah dilengkapi dengan aksesoris dan akan langsung diperagakan. Empat nama tarian yang telah dikirim ke Singapura yakni tarian Te'o Renda.

         Dalam tarian tersebut diceritakan wanita yang terampil merendah dan ramah. Tarian yang diperagakan ini biasanya dipakai untuk terima tamu,  tambahnya. Ada juga tarian Kakamusu yang melambangkan penjemputan terhadap pejuang yang usai melakukan perang. Selain itu, akan diperagakan juga tarian Taibenu yang melambangkan persatuan dan kesatuan tanpa membedakan orang miskin dan kaya. Tarian Foti, dalam peragaan tersebut penari harus menggunakan ti'i langga yang melambangkan keperkasaan dan melampiaskan sukacita. Pada kesempatan tersebut, para tamu akan diperkenalkan juga dengan kerajinan ti'i langga beserta fungsinya. Adapun potensi kerajinan alat musik sasando, tenun ikat dan pengrajin perak yang dipertunjukkan.

         Kita sementara berkoordinasi dengan pengrajin untuk mempersiapkan semua, pungkas Lusi. Dengan harapan, budaya Rote Ndao dapat dipromosikan dan dapat dikenal masyarakat luas. Selain untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat luar tentang potensi yang unik, pemerintah setempat juga dapat menikmati PAD dari kunjungan wisatawan pada waktu-waktu yang akan datang.

C. BERBURU DAN MERAMU
  
            Kehidupan masa ini dikenal dengan kehidupan berburu dan meramu. Cara-cara hidup di padang terbuka terbukti di Situs Sangiran (Jawa Tengah). Pada situs ini ditemukan sisa fauna, fosil manusia purba, dan alat batu dalam satu lapisan budaya dan kehidupan di tepi sungai, terbukti antara lain di Situs Pacitan (Jawa Timur), pada tepian Sungai Baksoko ditemukan persebaran alat batu dan daerahnya subur untuk hunian, sedangkan kehidupan di tepi pantai terdapat di Situs Pantai Timur Sumatera Utara, situs ini banyak ditemukan tumpukan sisa kerang yang membukit yang merupakan sampah dapur dari manusia yang mengonsumsi kerang pada masa yang cukup lama.

            Ketiga cara hidup manusia purba seperti di atas belum ditemukan pada padang terbuka, tepi sungai, dan tepi pantai yang ada di Kabupaten Rote Ndao.
Penelitian awal telah dilakukan, tetapi indikasi temuan tidak mendukung prospek daerah-daerah tersebut digunakan sebagi tempat hunian manusia masa berburu dan meramu. Proses belajar dan penyesuaian dengan alam terus berlanjut, dan dalam pengembaraan ditemukan gua dan ceruk sebagai hasil bentukan gejala alam. Bentuk gua dan ceruk yang bisa melindungi dari panas, hujan, dan serangan binatang buas dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sementara yang nantinya akan berpindah lagi mencari tempat yang cocok dan alam sekitar yang subur artinya kehidupan berburu dan meramu masih terus dilakoni.

            Kehidupan di dalam gua dan ceruk banyak terbukti di Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, gua dan ceruk yang menunjukkan bekas hunian manusia prasejarah telah dilakukan ekskavasi yang berulang kali, yakni pada Situs Gua Oenaek (Camplong, Kabupaten Kupang) dan Situs Liang Bua (Ruteng, Kabupaten Manggarai).
            Gua dimanfaatkan sebagai tempat hunian pada masa plestosen akhir sekitar 40.000-15.000 SM hingga masa holosen awal sekitar 15.000-5.000 SM (Cottrell, et.al, 1960). Namun, tidak semua gua dan ceruk digunakan sebagai tempat hunian sebab ada beberapa kriteria mengenai layak tidaknya gua dan ceruk dipilih sebagai tempat tinggal. Gua haruslah datar, memiliki ruangan yang luas, tidak lembab, pencahayaan matahari yang cukup, dan memiliki sumber daya alam yang subur (sumber mata air, fauna, dan flora).

1. Gua Mbia Hudale

            Dari hasil survei dan ekskavasi menunjukkan beberapa gua berindikasi sebagai tempat permukiman manusia purba. Ekskavasi (penggalian sistematis arkeologi) di Gua Mbia Hudale, Kelurahan Mokdale, Kecamatan Lobalain.
Penggalian membuka 3 kotak dengan kedalaman 85 cm dan temuan berupa alat-alat batu (stone artefact) dan moluska yang melimpah serta juga menemukan fragmen tulang dan gigi. Penggalian di Gua/Lua Bafak, Desa Oematamboli, Kecamatan Lobalain, membuka 1 kotak dan banyak menemukan alat-alat batu, gerabah, dan moluska, sedangkan di Gua/Lua Bote dibuka 2 kotak galian dan menemukan alat-alat batu, moluska, gerabah, fragmen tulang, dan muti dari kerang. Dari hasil temuan ketiga gua/lua yang digali berindikasi sebagai gua hunian manusia purba. Gua di Pulau Rote yang telah disurvei berjumlah sekitar 30 gua/ceruk dan diharapkan survei permukaan ini dapat dilanjutkan dengan proses penelitian yang lebih sistematis dalam kapasitas waktu yang cukup lama untuk merekam data yang lebih kompleks.

            Penelitian bisa dilanjutkan dengan proses ekskavasi atau penggalian sistematis dan penentuan umur yang absolute (dating) untuk menemukan budaya-budaya yang terpendam di dalam tanah selama waktu ribuan hingga jutaan tahun. Menurut hasil penelitian dating yang dilakukan Mahirta (Dosen UGM, Yogyakarta) dalam disertasi Phd "Human Occupation on Roti & Sabu Island, Nusa Tenggara Timur" di Australian National University, Gua/Lua Meko di Kecamatan Rote Barat Daya berumur 24.000 tahun yang lalu dan berasosiasi dengan peralatan batu manusia purba. Pertanyaan sekarang, di manakah fosil manusia purba itu? (perlu penelitian multidisipliner).

2.
Obyek Wisata

            Pemerintah daerah juga dapat mengembangkan potensi gua sebagai bentukan alam yang unik ini untuk dijadikan obyek wisata alam yang tentunya harus dibarengi dengan penataan alam sekitar yang lebih menarik tanpa merusak lingkungan purba. Bentangan bukit gamping yang memiliki jejeran gua dengan alam yang sejuk membelah jalan raya terletak di Kecamatan Rote Barat laut, Desa Oetutulu, dikenal masyarakat sekitar sebagai jejeran Gua Kaiseu bisa dikembangkan sebagai obyek wisata alam. Diharapkan, keunikan dan keasrian alam itu dapat juga berdampak pada pemberdayaan perekonomian masyarakat lokal.
Pantai Mulut Seribu terdapat di Kec. Rote Timur, Kab. Rote Ndao sangat indah dengan taman laut dan budi daya mutiara.   Bagi orang/wisatawan yang baru mengunjungi teluk mulut seribu selalu mengalami kesulitan atau tersesat pada saat keluar, sangat berliku – liku yang konon katanya ada tuannya yang menjaga menutup jalan keluar apabila para tamu yang masuk tidak meminta izin kepada pemilik.   

Pantai  Nemberala - Bo’a di Kec. Rote, Kab. Rote Ndao merupakan obyek wisata yang saat ini sudah cukup dikenal, bukan saja wisatawan asal Negara Kanguru (Australia ) tapi juga dikenal secara luas oleh para wisatawan Amerika, Eropa dan negara lainnya.   Jarak tempuh dari ibu kota Ba’a Kab. Rote Ndao kelokasi Pantai Nemberala sekitar 30 Km dengan menggunakan Bus atau Mikrolet yang memadai.

D. KEARIFAN LOKAL ORANG ROTE

                Pulau Rote terletak di lepas pantai ujung barat daya Pulau Timor di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagaimana kondisi alam NTT pada umumnya, Rote adalah sebuah pulau yang gersang, tandus, dan miskin sumber daya alamnya dengan musim penghujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang.  Mata pencaharian penduduknya cukup beragam, mulai dari berkebun, beternak, dan nelayan lepas pantai. Akan tetapi perekonomian masyarakatnya lebih berpusat pada pohon lontar dan pembuatan gula nira, yang mampu memberikan keuntungan ekonomis lebih besar daripada apa yang diperoleh suku-suku lain di sekitarnya yang pertaniannya sudah mencapai titik jenuh.
                Menurut cerita rakyat setempat, leluhur orang Rote bersama leluhur orang Belu berasal dari Sera Sue do Dai Laka atau Seram di Maluku.
Mereka datang berkelompok, sebagiannya melalui Flores dan yang lainnya melalui Timor (Mubyarto, 1991; Parera, 1994: 38; Fox, 2007). Pola perkampungan (nusak) dibentuk berdasarkan kelompok kekerabatan (klen) yang mereka sebut Leo dengan pemimpin (Manek) yang disebut Manelo. Leo-leo ini tinggal di dalam komunitas-komunitas wilayah terotorial genealogis yang disebut nusak. Masing-masing nusak mengembangkan suatu budaya yang khas, termasuk di dalamnya bahasa. Bahasa-bahasa itu kadang-kadang sulit dipahami oleh warga dari nusak lain.

Bangga pada Identitasnya

                Orang-orang Rote adalah orang yang bangga akan diri mereka sendiri, tegas, dan bersemangat (Fox, 1986:164). Mereka tidak meniru-niru dan tidak berasimilasi dengan kelompok-kelompok lain di NTT melainkan dengan kelompok yang mereka anggap lebih tinggi kebudayaannya. Pakaian adat sebagai tanda pembeda identitas orang Roti sangat khas dan menunjukkan pengaruh Portugis abad ke-17 dan Gujarat abad ke-18. Jika pakaian adat kaum pria suku-suku di Indonesia Timur mengenakan ikat kepala, orang Roti memakai topi daun lontar lebar seperti sombrero yang mereka tiru dari topi orang Portugis abad ke-17.

Motif kain celup ikat tradisional mereka merupakan gabungan motif-motif asli dengan disain patola yang diambil dari kain Gujarat yang merupakan barang dagangan impor kaum elit VOC pada abad ke-18. Orang Rote juga memiliki instrumen musik tradisional yang sangat khas yang disebut Sasando.
Alat musik yang juga dikenal di Pulau Sabu ini dibuat dari daun lontar. Alat ini biasa dimainkan dalam berbagai kegiatan sosial yang penting seperti pernikahan, kematian, kelahiran, dan ulang tahun.
Bahasa Melayu sudah dikenal oleh sebagian besar orang Rote sejak sekitar tahun 1660, di mana penguasa-penguasa Rote memulai surat-menyurat tahunan dengan gubernur jenderal VOC di Batavia. Sejak semula, Bahasa Melayu diterima sebagai bahasa sastra yang dikaitkan dengan agama Kristen dan berkembang varian bahasa Melayu Alkitab. Bahkan bahasa Melayu Kupang memperlihatkan pengaruh bahasa Rote yang sangat besar (Fox, 1986: 170).
Situasi Pulau dan budaya Rote berbeda dengan tetangganya Pulau Sabu yang homogen. Masyarakat Rote telah berabad-abad terbiasa untuk menerima perbedaan. Hidup dalam suasana heterogenitas atau keberagaman diterima sebagai sesuatu yang baik. Dalam sejarah pemukiman mereka, para pendatang baru yang hendak bermukim di wilayahnya diterima dengan upacara penyambutan yang luar biasa.
Kalaupun para pendatang baru itu menunjukkan perbedaan identitas dan pandangan hidup, mereka menganggapnya sebagai sebuah kekayaan. Orang Rote bahkan tak bosan-bosannya membicarakan perbedaan-perbedaan di antara nusak-nusak (wilayah kekuasaan) dan dialek-dialek yang ada. Di Rote terdapat 18 nusak yang diperintah oleh seorang manek (raja kecil) yang mengetuai sidang pengadilan dan membuat keputusan-keputusan berdasarkan hukum adat nusak itu.
 
Di antara mereka sendiri orang Rote menekankan perbedaan-perbedaan sosial yang kecil daripada menekankan kesamaan-kesamaan yang menyeluruh (Fox, 1986:174). Perbedaan-perbedaan kecil cenderung diangkat untuk menunjukkan keterpisahan di antara mereka. Bukankah cara ini mudah menyulut api konflik dan pertikaian? Bagi masyarakat Rote, perbedaan di antara mereka justru menunjukkan identitas dan kebanggaan akan harga diri yang tidak perlu mendatangkan pertentangan. Masyarakat Rote memiliki basis sosial yang kuat dalam berdemorasi. Hal ini menguntungan bagi proses konsolidasi sistem politik dalam konteks Indonesia yang menghargai kemajemukan.





Kecerdasan Akal

               
Secara prinsip, pertikaian fisik merupakan suatu hal yang dipandang rendah oleh orang Rote. Salah satu tema pengikat penting dalam hampir semua kisah pembentukan nusak, penaklukkan wilayah, penyatuan klen-klen dalam sistem pemerintahan, kejayaan serta kegagalan para pemimpin Rote adalah: kecerdasan akal. Dapat disebutkan bahwa keterampilan dan kecerdasan mengolah akal budi dan menyusun berbagai strategi dan siasat merupakan salah satu keutamaan terpenting masyarakat Rote. Yang dimaksudkan dengan kecerdasan akal di sini adalah semacam kecerdikan yang mengandung jebakan—yang sejajar dengan pengertian Melayu tentang akal. Penaklukkan, kekuasaan, dan keperkasaan tidak didasarkan pada kekuatan (power) melainkan dengan cara jebakan, tipu daya pikiran –adalah sifat yang dikagumi orang Rote. Pahlawan sebagai ‘orang yang banyak akalnya’ merupakan tema yang pervasif dalam cerita rakyat Rote dan mencerminkan suatu citra positif yang dimiliki orang Roti tentang diri mereka sendiri. Ketika cerita ‘yang relatif baru’ tentang Abu Nawas menyebar sampai ke Rote, sebutan ‘Aba Nabas’ bagi seorang Rote akan diterima sebagai suatu pujian. Tokoh ‘Aba Nabas’ dikagumi sebagai orang yang banyak akalnya, melewati berbagai tantangan dengan sukses karena kecerdasan akalnya. Dalam masyaraat Rote, cerita-cerita ‘Aba Nabas’ sangat populer, sangat dihargai dan selalu dipandang sebagai salah satu ‘cultural hero’ yang merefleksikan keutamaan hidup orang Rote sendiri.
Sebagai orang yang mengutamakan olah akal budi, penyusunan strategi serta siasat, manusia Rote dikenal sebagai masyarakat yang tidak mengenal konsep kata “Ya!” Mereka bukanlah orang yang mudah menyetujui sesuatu hal tanpa didahului dengan penalaran (reasoning) bahkan perdebatan. Masyarakat Rote mengenal dan memiliki konsep kata “Tetapi” (Tebu). Hal ini sangat berpengaruh dalam norma-norma kehidupan mereka. Di dalam kesehariannya, orang Rote selalu mempertanyakan kegunaan maksimal dari hal-hal yang diperintahkan kepada mereka (Mubyarto, 1991: 70). Konsep ini dapat pula menjadi salah satu mekanisme pertahanan diri mereka dari unsur-unsur yang datang dari luar, bukan untuk ditolak mentah-mentah melainkan untuk dipertanyakan kegunaan maksimalnya. Masyarakat Rote terkenal sebagai orang-orang yang sangat kritis karena kecerdasan akal merupakan salah satu keutamaan yang dianggap penting oleh komunitas etnis ini.


Suksesi sebagai Regenerasi yang Wajar

               
Orang Rote memiliki pandangan yang khas mengenai pergantian kepemimpinan. Dalam banyak komunitas lain, suksesi seringkali ditandai dengan intrik-intrik politik, persekongkolan, bahkan tidak jarang terjadi kudeta berdarah. Pandangan orang Rote mengenai pergantian kepemimpinan dapat kita amati dari puisi lisan mereka yang disebut Bini. Seluruh komunitas Rote mengenal nyanyian dengan bahasa ritual formal yang disebut Bini. Khazanah Bini seringkali mengungkap dasar-dasar kebudayaan Rote. Bini berikut ini mengungkapkan sebuah filosofi penting orang Rote dalam interaksi sosial yang formal, khususnya pandangan mereka tentang suksesi kepemimpinan.

1. Lole faik ia dalen

2. Ma lada ledok ia tein na

3.
Lae: tefu ma-nggona lilok

4. Ma huni ma-lapa losik.

5. Tefu olu heni nggonan

6. Ma huni kono heni lapan,

7. Te hu bei ela tefu okan

8.
Ma huni hun bai.

9. De dei tefu na nggona seluk

10. Fo na nggona lilo seluk

11. Ma dei huni na lapa seluk

12. Fo na lapa losi seluk. Pada hari yang baik ini

Dan pada saat yang baik ini (mataharinya)

Mereka berkata: Tebu itu memiliki pelepah emas

Dan pisang memiliki bunga tembaga.

Pelepah tebu itu jatuh

Dan bunga pisang rontok,

Yang masih tinggal hanya akar tebu

Dan juga batang pisang.

Tetapi tebu itu berpelepah kembali

Pelepahnya emas lagi

Dan pisang itu berbunga lagi

Bunganya tembaga lagi.

                Bagi orang Rote, pergantian pemimpin merupakan sebuah hal yang wajar dan alamiah. Regenerasi itu akan berlangsung dengan damai bila memenuhi dua kondisi: (a) generasi muda mengakui jasa pendahulunya (Tebu itu memiliki pelepah emas//Dan pisang memiliki bunga tembaga), tetapi sebaliknya (b) generasi yang lebih tua pun dituntut untuk percaya pada kemampuan generasi penggantinya (yang pelepahnya emas lagi//bunganya tembaga lagi). Perhatikan konsep “tetapi” dalam ungkapan tersebut. Ungkapan ini menunjukkan pentingnya saling memberikan penghormatan, yang muda terhadap yang tua dan yang tua terhadap yang muda.

SEKIAN